Pernahkan Anda mendengar Upacara Rambu Solo? Ritual Rambu Solo ini merupakan sebuah tradisi pesta kematian unik dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Upacara ini merupakan bagian dari tradisi unik Tana Toraja yang dimaksudkan untuk mengantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan terakhir. Bagi masyarakat Toraja upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian karena orang yanng meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara Rambu Solo diselesaikan. Dalam adat istiadat atau budaya Tana Toraja, masyarakat setempat mempercayai bahwa setelah kematian itu ada suatu tempat atau dunia yang abadi dimana arwah para leluhur berkumpul sebagai tempat peristirahatan. Tempat atau dunia lain itu oleh warga disebut Puya. Di Puya ini arwah yang meninggal akan bertransformasi menjadi arwah gentayangan (Bombo), arwah setingkat dewa (To Mebali Puang) atau arwah pelindung (Deata). Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya.

Menurut masyarakat Tana Toraja sesorang yang meninggal dan keluarganya belum menggelar Upacara Rambu Solo maka orang tersebut belum dianggal benar-benar meninggal namun dianggap orang sakit dan kondisinya sedang lemah. Orang yang meninggal ini akan diperlakukan seperti orang yang masih hidup dan diajak berinteraksi seperti orang normal seperti disajikan makanan dan minuman, dibaringkan di tempat tidur, diajak mengobrol dan bercanda layaknya orang yang masih hidup dan hal ini dilakukan oleh semua anggota keluarga bahkan tetangga sekitar keluarga yang berduka tersebut.  Dalam masa penungguan sebelum Rambu Solo digelar, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.

adu kerbau kurban rambu solo

Secara garis besar upacara pemakaman terbagi kedalam 2 prosesi, yaitu Prosesi Pemakaman (Rante) dan Pertunjukan Kesenian. Prosesi-prosesi tersebut tidak dilangsungkan secara terpisah, namun saling melengkapi dalam keseluruhan upacara pemakaman.

Prosesi Pemakaman atau Rante tersusun dari acara-acara yang berurutan. Prosesi Pemakaman (Rante) ini diadakan di lapangan yang terletak di tengah kompleks Rumah Adat Tongkonan. Acara-acara tersebut antara lain :

  • Ma’Tudan Mebalun, yaitu proses pembungkusan jasad.
  • Ma’Roto, yaitu proses menghias peti jenazah dengan menggunakan benang emas dan benang perak.
  • Ma’Popengkalo Alang, yaitu proses perarakan jasad yang telah dibungkus ke sebuah lumbung untuk disemayamkan.
  • Ma’Palao atau Ma’Pasonglo, yaitu proses perarakan jasad dari area Rumah Tongkonan ke kompleks pemakaman yang disebut Lakkian.

Prosesi yang kedua adalah Pertunjukan Kesenian. Prosesi ini dilaksanakan tidak hanya untuk memeriahkan tetapi juga sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi orang yang sudah meninggal. Dalam Prosesi Pertunjukan kesenian kita bisa menyaksikan:

  • Perarakan kerbau yang akan menjadi kurban
  • Pertunjukan beberapa musik daerah, yaitu Pa’Pompan, Pa’Dali-dali, dan Unnosong.
  • Pertunjukan beberapa tarian adat, antara lain Pa’Badong, Pa’Dondi, Pa’Randing, Pa’katia, Pa’Papanggan, Passailo dan Pa’Silaga Tedong.
  • Pertunjukan Adu Kerbau, sebelum kerbau-kerbau tersebut dikurbankan.
  • Penyembelihan kerbau sebagai hewan kurban.

Melalui upacara Rambu Solo inilah kita bisa melihat bahwa masyarakat Tana Toraja begitu menghormati leluhurnya. Ritual pemakaman ini terdiri dari beberapa susunan acara dimana dalam setiap acara tersebut kita bisa menyaksikan nilai-nilai kebudayaan setempat yang hingga kini masih dipertahankan oleh warga Tana Toraja.

upacara rambu solo

Pesta yang meriah ini diadakan sampai berhari-hari lamanya dengan sejumlah prosesi yang rumit. Keluarga yang mengadakan upacara juga menyediakan kerbau dan babi untuk dikurbankan, jumlahnya pun mencapai puluhan ekor. Kerbau yang disembelih juga bukan kerbau sembarangan, melainkan kerbau Tedong Bonga yang harganya berkisar antara 10–50 juta per ekornya. Tidak mengherankan kalau Upacara Rambu Solo adalah salah satu upacara pemakaman termahal yang bisa menghabiskan dana ratusan hingga milyaran rupiah. Dengan biaya yang sangat besar tersebut, keluarga yang ingin mengadakan upacara Rambu Solo harus mengumpulkan uang sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Jika Anda ada rencana wisata ke Tana Toraja berkunjunglah sekitar bulan Juli-Agustus atau Desember-Januari karena Ritual Rambu Solo biasanya digelar di bulan-bulan tersebut.

Share this :

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter

Komentar

komentar