Sebuah poster barang-barang terlarang saat bepergian menggunakan pesawat terbang dipasang tak jauh dari penumpang yang melakukan boarding pass di Terminal II Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (26/1). Berdasarkan Surat Peraturan Menteri Perhubungan no 90 tahun 2013 tiap penumpang pengguna jasa penerbangan, dilarang membawa barang-barang atau bahan berbahaya yang dapat membahayakan kesehatan, keselamatan, harta benda, dan lingkungan. ANTARA FOTO/Suryanto/Asf/pd/15.

Kamu pastinya senang dong kalau bisa liburan ke luar negeri dan saking senangnya mumpung ke luar negeri biasanya pasti memborong oleh-oleh dan membeli gadget atau barang keren untuk dibawa pulang ke Indonesia. Persoalan muncul karena ternyata barang atau oleh-oleh yang dibeli di luar negeri beresiko kena tarif bea masuk oleh petugas bea cukai. Hal ini tentunya sangat memberatkan mengingat tarif bea masuk barang-barang dari luar negeri terbilang mahal. Silakan simak ilustrasi cerita di bawah ini sehingga bisa dijadikan tips hindari bea masuk barang dari luar negeri.

Cerita A :
Ada seorang ibu-ibu sosialita tengah berlibur ke Paris. Di sana beliau membeli oleh-oleh berupa tas yang sangat mahal. Terlalu senang, beliau membawa tas itu masih dalam keadaan original packing dari tokonya. Ketika sampai di Indonesia pihak bea cukai menahan tas tersebut hingga dibayarkan bea masuk, PPN, PPnBM. Ketika ditotal biayanya hampir sama dengan harga asli tas tersebut. Ibu itu pun sedih, geram dan kecewa pada petugas bea cukai.

Cerita B :
Seorang penumpang pria dari Amerika membawa 5 pasang sepatu dan 15 potong pakaian dan semuanya dimasukkan ke dalam koper dan dikondisikan sebagai barang keperluan sehari-hari. Walaupun sepatu dan pakaiannya baru pemuda ini tidak diwajibkan membayar bea masuk oleh petugas bea cukai.

Cerita C :
Seorang mahasiswa pulang ke Indonesia dari berlibur di Singapura. Dia membeli oleh-oleh 3 baju kemeja dan sebuah Laptop. Total harga pastinya lebih dari USD 250. Saat pulang notebook dimasukan ke dalam tas gendong sementara ketiga baju yang dibeli masih tertera kode tax pricenya. Oleh pihak bea cukai bandara mahasiswa ini diminta bayar bea masuk untuk ketiga bajunya saja sementara notebooknya tidak.

Kasus D :
Seorang bapak-bapak yang pulang dari liburan India dimana beliau di New Delhi membeli dua cincin yang bagus. Yang satu dipakai saat pengecekan di bandara sementara cincin yang lagi satu ditaruh di dalam saku celana. Ketika dilakukan pemeriksaan oleh petugas bea cukai, ternyata bapak ini diminta untuk bayar cincin yang di dalam saku.

Setelah membaca cerita di atas kamu jadi paham kan? Jadi untuk barang-barang yang dipakai sebagai keperluan sehari-hari tidak akan dikenai kewajiban bea masuk di bandara. Sehingga kesimpulannya adalah kondisikan barang-barang bawaan kamu sebagai barang kebutuhan penumpang selama liburan di luar negeri.

Sumber : Ahsan file
ANTARA FOTO/Suryanto/Asf/pd/15.

Share this :

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter

Komentar

komentar