Sejarah tradisi omed-omedan atau ciuman masal di Bali bermula dari sebuah kerajaan kecil pada zaman penjajahan Belanda dimana menurut cerita, raja Puri Oka tengah mengalami sakit keras dan tidak kunjung sembuh meski sudah berobat ke berbagai tabib. Suatu ketika sehari setelah Hari Raya Nyepi masyarakat kerajaan setempat sedang menggelar suatu permainan yang bernama Omed-omedan dan suasana pada waktu itu sempat riuh karena antusias para pemdua dan pemudi sehingga memicu kemarahan Raja Puri Oka. Namun anehnya saat Sang Raja keluar untuk memarahi warga beliau mendadak tidak lagi merasakan sakit dan sembuh seketika. Merasa mendapat mukjizat setelah melihat adegan rangkul-merangkul para pemuda dan pemudi yang membaur tersebut Sang Raja memberikan titah untuk menggelar ritual omed-omedan setahun sekali pada hari Ngembak Geni (sehari setelah Hari Raya Nyepi). Namun pemerintah Belanda pada waktu itu sempat melarang digelarnya ritual tersebut dan terpaksa dihentikan. Saat tidak digelar, menurut sejarah tradisi omed-omedan, ada dua ekor babi besar yang berkelahi hingga berdarah di tempat digelarnya tradisi omed-omedan yang dianggap sebagai pertanda buruk sehingga akhirnya setelah meminta petunjuk dari para leluhur ritual kembali digelar hingga saat ini berlokasi di Banjar Kaja, Desa Adat Sesetan, Denpasar, Bali. Tradisi ciuman massal ini hanya dikhususkan bagi para pemuda dan pemudi yang belum menikah. Dilakukan dengan cara berciuman antara pemuda dan pemudi. Mereka dipisahkan dalam dua kelompok, laki-laki dan perempuan yang berbaris satu bujur ke belakang dengan posisi berhadap-hadapan.

sejarah tradisi omed-omedan di Sesetan, Bali

Tradisi Omed-omedan yang telah berlangsung selama ratusan tahun ini biasanya dimulai pada puku tiga sore hari dimulai dengan sambutan kata prajuru banjar di aula Bale Banjar Kaja Sesetan, kemudian dilanjutkan dengan acara persembahyangan bersama, lalu ada dharma santhi atau masima krama serta pentas tarian Bali sehingga mirip seperti pagelaran festival seni & budaya. Sebelum memulai ritual omed-omedan yang unik ini, para peserta yang seluruhnya adalah para pemuda dan pemudi menggelar doa atau persembahyangan bersama dipimpin oleh pemangku desa setempat. Selesai bersembahyang baru para peserta kemudian membaur ke arena dibagi menjadi dua kelompok sesuai dengan jenis kelamin dan dalam posisi berlawanan. Selanjutnya salah satu dari kedua kelompok pemuda dan pemudi kemudian diarak bergiliran untuk saling berpelukan dan berciuman. Dalam tradisi yang disaksikan oleh ribuan orang ini kedua kelompok peserta tidak diperkenankan memilih pasangan yang akan dicium. Aksi pelukan dan ciuman akan dipisahkan setelah para peserta mendapat guyuran air dari panitia.

sejarah tradisi omed-omedan di Banjar Kaja, Sesetan, Bali

Meski menuai banyak kontroversi terutama karena tidak sesuai dengan adat ketimuran tradisi unik yang juga dikenal dengan nama Tradisi Med-medan ini sukses menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Warga setempat menyikapi lain tradisi ini sebagai luapan kebahagiaan muda-mudi setelah melakukan Brata Penyepian sehari sebelumnya. Di samping itu warga merefleksikan tradisi ini sebagai sebuah tradisi yang mengandung nilai religious. Persatuan dan kesatuan serta estetika sehingga tokoh dan warga setempat akan terus menggelar Ritual Omed-omedan sebagai warisan leluhur yang harus dilestarikan.

Share this :

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter

Komentar

komentar