Budaya perang pandan atau Mekare-kare merupakan ikon Desa Adat Tenganan Pagringsingan yang berada di Kabupaten Karangasem, Bali. Tradisi perang pandan ini merupakan bagian dari Usaba Sambah yang merupakan ritual terbesar dalam setahun dengan perayaan sukacita oleh masyakarakat Desa Bali Aga Tenganan. Ritual Usaba Sambah yang jatuh pada bulan kelima dalam perhitungan penanggalan Tenganan Pagringsingan ini (antara bulan Mei hingga Juni) digelar selama sebulan penuh. Budaya Mekare-kare selama berlangsungnya Usaba Sambah dilaksanakan sebanyak empat kali. Pertama dilakukan di Bale Agung, Kedua di Patemu Kaja, Ketiga di Patemu Kelod dan keempat di Patemu Tengah. Mekare-kare yang pertama dan kedua lebih bersifat simbolis warga setempat sementara Mekare-kare ketiga dan keempat diikuti lebih banyak orang termasuk warga di luar wilayah Tenganan Pagringsingan.

mekare-kare di desa tenganan

Kata Makare-kare berasal dari kata kale yang artinya perang sehingga makare-kare ini dikategorikan sebagai tarian perang. Sesuai dengan arti perang maka tarian ini melibatkan dua orang laki-laki yang membawa tameng terbuat dari ata serta membawa segenggam daun pandan berduri saling menyerang dan menggores punggung lawannya. Perang Pandan ini sudah menjadi objek wisata budaya yang populer di Bali, bahkan sudah banyak wisatawan asing yang datang ke Tenganan. Waktu pelaksanaan biasanya dimulai siang, dimana semua warga menggunakan pakaian adat Tenganan (kain tenun Pegringsingan). Para peserta Perang Pandan menggunakan sarung (kamen), selendang (saput) dan ikat kepala (udeng). Sebelum dimulai, warga Tenganan melakukan ritual “Melelawang” atau berkeliling desa untuk memohon keselamatan. Setelah itu diadakan ritual minum tuak untuk para peserta, tuak kemudian dikumpulkan menjadi satu dan dibuang ke samping panggung. Kedua peserta perang saling menyerang, mereka memukul punggung lawan dengan cara merangkulnya terlebih dulu. Mereka berpelukan, kemudian memukul dan menggesekkan punggung lawan dengan daun pandan yang berduri.

tradisi perang pandan desa tenganan

Tubuh mereka yang terluka setelah ritual perang pandan akan diobati dengan boreh yang berbahan cuka, bangle, kunyit dan lengkuas. Menurut pengalaman orang yang sudah pernah perang pandan jika luka tersebut diberi ramuan boreh maka akan cepat sekali kering maksimal dua hari saja sehingga tidak terlalu membuat menderita peserta perang pandan. Biasanya perang pandan ini diiringi gamelan Selonding atau gamelan sakral Bali yang tergolong tua hanya terdapat di beberapa desa tua Bali seperti Bungaya, Bugbug dan Tenganan Pagringsingan. Tidak ada yang menang dan kalah dalam Perang Pandan Tenganan ini karena yang dititikberatkan adalah unsur tariannya saja. Usai Mekare-kare warga melanjutkan dengan acara makan-makan (megibung) untuk mengukuhkan kebersamaan.

perang pandan saat usaba sambah tenganan

Kepercayaan yang dianut warga Desa Tenganan berbeda dengan warga Bali pada umumnya. Warga Desa Tenganan mempunyai aturan tertulis atau “Awig-awig” yang secara turun temurun diwariskan oleh nenek moyang mereka, tidak mengenal kasta dan diyakini Dewa Indra adalah dewa dari segala dewa. Tertarik melihat tradisi unik perang pandan? Jangan lupa mampir ke Desa Tenganan, Bali diantara bulan Mei dan Juni, ya!

Share this :

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter

Komentar

komentar