Objek wisata religius di Bali yang akan kita bahas yaitu keberadaan sejumlah Pura yang selain digunakan sebagai tempat peribadatan umat Hindu juga menjadi objek wisata yang tidak kalah menarik dari pantai ataupun pemandangan alam khas Bali lainnya. Pura ini adalah tempat religi yang penuh kearifan lokal khas budaya Bali.

Berikut ini 9 tempat wisata religius di Bali yang bisa wisatawan kunjungi saat menikmati liburan dan tengah rekreasi di Bali

1. Pura Besakih

objek-wisata-religius-di-bali-pura-agung-besakih

Pura Besakih merupakan sebuah komplek Pura yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Di dalam komplek Pura tidak hanya terdapat satu Pura saja tapi banyak. Karena banyaknya Pura yang terdapat di dalam satu wilayah maka Pura Besakih ini dikategorikan sebagai Pura terbesar di Indonesia.

Pura yang dikenal juga dengan nama Pura Agung Besakih ini terdiri dari satu pusat Pura yang diberi nama Pura Penataran Agung Besakih dan terdapat 18 Pura pendamping yang berada di sekeliling dari Pura Penataran Agung Besakih. Satu buah Pura Basukian dan 17 pura lainnya.

Pura Penataran Agung Besakih paling banyak memiliki tempat atau bangunan untuk persembahyangan. Orang Bali biasa menyebut dengan nama Pelinggih dan merupakan pusat dari Pura ini.

Sebagai ibunya dari Pura di Bali, Pura Agung Besakih tidak terlepas dari sejarah keberadaannya. Pembangunan Pura Besakih dimulai oleh seorang tokoh agama Hindu yang telah lama menetap di Jawa. Beliau adalah Rsi Markandeya.

Dari hasil pertapaannya beliau mendapatkan petunjuk untuk merabas hutan belantara Pulau Panjang atau Pulau Dawa yang merupakan gabungan antara Pulau Jawa dan Pulau Bali (karena dahulu kala konon Jawa dan Bali menjadi satu tidak terpisahkan selat seperti sekarang).

Perjalanan pertama Rsi Markandeya bersama pengikutnya menerabas hutan gagal karena belum mendapat wahyu dari Tuhan. Selanjutnya setelah mendapatkan wahyu kembali untuk melanjutkan penjelajahan, Rsi Markandeya bersama para pengikutnya melakukan beragam upacara dan ritual termasuk membawa peralatan untuk bercocok tanam sebelum akhirnya sampai di area Pura Besakih sekarang untuk memulai kehidupan bercocok tanam dan pembagian lahan untuk tegal dan perumahan.

Ditempat perambasan hutan, Rsi Markandeya sempat menanam kendi yang berisikan logam dan air suci. Logam tersebut antara lain logam emas, logam perak, logam tembaga, logam besi dan logam perunggu. Kelima logam tersebut oleh masyarakat Bali disebut dengan nama Panca Datu.

Selain logam juga turut serta ditanam permata yang disebut Mirahadi yang artinya mirah utama. Tempat penanaman kendi inilah yang disebut dengan nama Basuki yang artinya selamat. Diberikan nama Basuki atau selamat dikarenakan dalam perambasan hutan para pengikut dari Rsi Markandeya selamat melaksanakan tugasnya. Dengan berjalanyan waktu nama Basuki berubah menjadi Besakih.

 

2. Pura Lempuyang

tempat-religi-pura-lempuyang-luhur

Pura Lempuyang merupakan Pura tertua di Bali berlokasi di Desa Adat Purwa Ayung, Kecamatan Abang, Karangasem, Bali, sekitar 75 kilometer dari Kota Denpasar. Untuk menuju kawasan Pura, wisatawan atau umat Hindu yang ingin sembahyang harus melalui jalan perbukitan yang berliku-liku dan naik turun.

Jika ingin mencapai ke Pura Lempuyang Luhur (utama) maka harus menaiki anak tangga yang jumlahnya ribuan. Selama perjalanan wisatawan bisa melihat keindahan alam hutan yang asri beserta udaranya yang sejuk menyegarkan ditemani aneka kicauan burung serta tingkah laku monyet liar yang terkadang menggemaskan.

Objek wisata religius di Bali ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu: Lempuyang Sor, Lempuyang Madya dan Lempuyang Luhur (paling tinggi). Untuk wisatawan dan umat Hindu yang ingin berkunjung dan sembahyang di Puru Luhur Lempuyang wajib mentaati sejumlah aturan diantaranya menjaga ucapan selama perjalanan, tidak boleh berkata kasar, pikiran harus tulus, tidak makan babi, tidak sedang cuntaka karena kerabat ada yang meninggal serta yang paling penting wanita sedang haid dan menyusui tidak diperkenankan masuk Pura.

Wisatawan yang gemar wisata trekking, melakukan perjalanan mendaki ke Pura Luhur Lempuyang akan memberikan sensasi dan pengalaman yang unik serta menantang. Terdapat beberapa jalur pendakian menuju puncak, jika mau lebih gampang, sudah disediakan di jalur utama dengan tangga berundak yang biasa juga digunakan oleh umat Hindu sebagai jalur persembahyangan sebelum tiba di area Pura Lempuyang.

Sejarah berdirinya Pura ini belum dapat diungkapkan dengan pasti namun menurut sejumlah sumber dari lontar dan prasasti menyebutkan Lempuyang berasal dari kata “empu” atau “emong” yang artinya menjaga dimana konon Bhatara atau Dewa kala itu mengutus tiga putranya turun ke bumi untuk mengemong atau menjaga Bali dari berbagai peristiwa bencana alam.

Gunung atau tempat yang sangat tinggi dipercaya umat Hindu merupakan stana para Dewa yang merupakan manifestasi Tuhan untuk menjaga keselamatan Pulau Bali.

 

3. Pura Ulun Danu Beratan

objek-wisata-religius-pura-ulun-danu-beratan

Nama Pura Ulun Danu Beratan merujuk pada lokasinya yang berada di tepi Danau Beratan, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Jika dari Denpasar wisatawan akan menempuh jarak kurang lebih 50 kilometer. Keunikan dari Pura ini yaitu lokasi Pura yang berada di tengah Danau Beratan.

Tempat wisata religius di Bali ini memang menjadi salah satu objek wisata populer di Bali bahkan dengan menyebut Objek Wisata Bedugul saja maka yang dimaksud adalah Pura Ulun Danu Beratan ini. Padahal di Bedugul ada beberapa objek wisata lain yang tidak kalah serunya seperti Botanical Garden, The Sila’s Agrotourism, Danau Buyan, Handara Golf & Country Club, Danau Tamblingan serta Kebun Strawberry Bedugul.

Menurut sejarah Pura Ulun Danu Beratan yang bersumber pada lontar, disebutkan bahwa Pendiri Pura ini adalah Raja Mengwi kala itu, I Gusti Agung Putu, yang didirikan pada tahun 1634 Masehi dan dijunjung atau dirawat oleh desa-desa sekitar area Pura.

Pura Ulun Danu terdiri dari lima kompleks Pura dan satu buah Stupa dimana Stupa ini sendiri menandakan adanya makna keselarasan dan harmoni beragama. Pada hari-hari tertentu seperti Purnama, Tilem, Galungan maupun hari besar umat Hindu lainnya seringkali diadakan persembahyangan bersama di Pura yang termasuk kategori objek wisata religi di Bali ini.

Tidak hanya itu kawasan Ulun Danu Beratan yang indah sering juga digunakan untuk acara prewedding yang mempesona.

 

4. Pura Kehen

objek-wisata-religius-di-bali-pura-kehen

Pura Kehen terletak di Banjar Pekuwon, Desa Cempaga, Bangli. Lokasi Pura berada di kaki Bukit Bangli bagian selatan menghadap ke selatan. Pura ini berjarak sekitar 43 kilometer dari Denpasar dan terbilang cukup dekat dengan Desa Wisata Ubud, Kintamani dan Dewa Wisata Penglipuran yang ketenarannya di dunia pariwisata tidak perlu diragukan lagi.

Keunikan Pura Kehen terdapat pada pintu masuk pura yang tidak menggunakan Candi Bentar seperti pada Pura Kahyangan Jagat pada umumnya. Pintu masuk Pura Kehen menggunakan Candi Kurung. Keberadaan Bale Kulkul pada batang Pohon Beringin juga menambah keunikan Pura Kehen yang merupakan salah satu objek wisata unggulan Pemerintah Kabupaten Bangli ini.

Pohon beringin yang tumbuh sangat besar di areal Pura Kehen sangat disakralkan oleh masyarakat setempat. Mereka percaya bahwa jika batang pohon beringin tersebut patah, itu berarti sebuah musibah atau petaka akan terjadi. Hal ini dibuktikan dengan rentetan kejadian yang pernah terjadi turun temurun.

Menurut sejarah Pura Kehen, kehadiran Pura ini sudah ada sejak akhir abad IX atau permulaan abad X Masehi. Dalam perjalanan sejarahnya, desa, banjar atau Pura yang berada di wilayah Desa Bangli bersatu dalam satu kesatuan yang utuh dikenal dengan istilah Gebog Domas.

Dalam Gebog Domas ini seluruh banjar atau desa memiliki tanggung jawab bersama terhadap keberadaan Pura Kehen, masyarakat dan lingkungan di Desa Bangli. Wadah Gebog Domas menjadi simbol bahwa banjar-banjar di wilayah Desa Bangli adalah sebuah kesatuan, dia juga menjadi simbol keunikan dan kekhasan Bangli dengan desa-desa di wilayah atau daerah lain. Kesakralan terhadap objek wisata religius di Bali ini masih diyakini warga setempat.

 

5. Pura Uluwatu

tempat-wisata-religius-pura-uluwatu-bali

Pura Uluwatu berlokasi di Desa Pecatu, Kuta Selatan, Badung. Desa Pecatu sangat terkenal di Badung karena lokasinya yang sangat strategis dekat Bandara Internasional Ngurah Rai dan juga memiliki pemandangan yang menakjubkan dari atas bukit beserta pantainya yang mempesona.

Pura Uluwatu berada di atas tebing di bagian selatan semenanjung Bali dan merupakan salah satu Pura Sad Kahyangan (Enam kelompok besar Pura di Bali). Jaraknya sekitar 25 kilometer dari Kota Denpasar ke arah selatan. Pura ini berdiri kokoh di atas batu karang yang menjorok ke tengah lautan dengan ketinggian kurang lebih 90 meter.

Jika dilihat dari kejauhan salah satu objek wisata religius di Bali ini sangat indah karena tebing yang berbatu di sekeliling Pura memberikan pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Selain itu dari atas area Pura para wisatawan bisa menikmati pemandangan laut di bawahnya yang tidak kalah mempesonanya.

Perjalanan sebelum mencapai Pura, wisatawan akan disuguhkan pemandangan hutan kering kecil yang dikenal dengan nama Alas Kekeran (Hutan Larangan) yang merupakan bagian dari Pura dan dihuni oleh banyak monyet serta hewan lainnya.

Keindahan panorama sekeliling Pura Uluwatu akan semakin memukau wisatawan pada saat matahari terbenam atau sunset yang dapat dinikmati dari beberapa sisi tebing di seputar Pura, ditambah rutinnya pertunjukan tari kecak yang dipentaskan di sebuah panggung terbuka akan membuat perjalanan wisatawan ke Pura Uluwatu semakin seru dan tidak terlupakan.

Berdasarkan sejarah Pura Uluwatu, belum diketahui secara pasti kapan Pura ini dibangun namun berdasarkan peninggalan kuno yang terdapat di area sekitar, Pura Uluwatu sudah ada sejak abad ke-8. Nama Uluwatu sendiri berasal dari kata Ulu yang berarti kepala dan Watu yang berarti batu. Oleh sebab itu Pura Uluwatu berarti Pura yang dibangun di ujung terumbu karang.

 

6. Pura Pusering Jagat

objek-wisata-religius-di-bali-pura-pusering-jagat-bali

Pura Pusering Jagat dari namanya mengandung makna yaitu pusat semesta yang konon menurut keyakinan masyarakat setempat di Pura inilah awal mula kehidupan dan peradaban manusia.

Pure Pusering Jagat merupakan salah satu Pura yang dianggap penting di Bali karena termasuk dalam Pura Sad Kahyangan (Enam Pura besar di Bali) yang lokasinya berada di tengah-tengah Pulau Bali, tepatnya di Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar. Kata Puser mengandung arti Pusat dan kata Jagat mengandung arti Dunia. Keyakinan Pura Pusering Jagat sebagai pusat dunia inilah yang tertanam dari masa ke masa dan dari generasi ke generasi.

Konon di Pura Pusering Jagat inilah pusat ritual kekuasaan digulirkan pada masa Kerajaan Bali Kuno karena posisinya yang strategis berkedudukan di tengah-tengah Pulau Bali. Pusering Jagat juga dikenal dengan nama lain Pura Pusering Tasik atau pusatnya lautan.

Masyarakat Bali meyakini Pura Pusering Jagat sebagai tempat pemujaan terhadap Dewa Siwa terlihat dari peninggalan arca-arca bercirikan Siwa yang tersimpan di area Pura. Salah satu keunikan yang dijumpai di pura ini adalah adanya palinggih Ratu Purus dengan arca kelamin laki-laki dan perempuan yang melambangkan penciptaan dunia.

 

7. Pura Goa Lawah

obyek-wisata-religius-pura-goa-lawah-bali

Pura Goa Lawah merupakan salah satu Pura Sad Kahyangan (Enam Pura Besar di Bali) yang berdiri di wilayah pertemuan antara pantai dan perbukitan dengan sebuah Goa yang dihuni ribuan kelelawar. Pura yang berada di Desa Pesinggahan, Dawan, Klungkung ini oleh masyarakat Bali digunakan sebagai tempat pemujaan Tuhan sebagai Dewa Laut.

Pura Goa Lawah inilah pusat Pura Segara di Bali. Konon di Pura inilah tempat bersemayamnya Naga Basuki yang menurut kepercayaan Umat Hindu sebagai penjaga keseimbangan sekala dan niskala (Dunia Nyata dan Dunia Gaib). Pura yang termasuk tempat wisata religius di Bali ini merupakan suatu kawasan yang suci dan indah. Pura yang dihuni ribuan kelelawar ini memiliki beberapa pelinggih (tugu) tempat bersemayam para Dewa.

Berdasarkan sejarah Pura Goa Lawah yang belum bisa dipastikan kebenarannya karena terbatasnya sumber seperti prasasti, lontar ataupun buku yang membahas khusus tentang Pura Goa Lawah, Pura ini sudah ada sejak abad ke-10 ketika pendeta terkenal Mpu Kuturan mengunjungi Bali.

Jika dirunut dari kata goa lawah, secara harfiah dapat dijelaskan bahwa goa berarti goa (lobang) dan lawah berarti kelelawar. Jadi goa lawah bisa diartikan goa kelelawar. Dalam beberapa lontar, sekilas ada yang menyimpulkan secara garis besarnya bahwa pura-pura besar yang berstatus Kahyangan jagat dan Sad Kahyangan di Bali dibangun oleh Mpu Kuturan.

 

8. Pura Batukaru

objek-wisata-religius-di-bali-pura-batukaru

Pura Luhur Batukaru berada di Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Lokasi pura ini terletak di bagian barat Pulau Bali di lereng selatan Gunung Batukaru. Kemungkinan besar nama Pura ini diambil dari nama Gunung Batukaru ini.

Bagi umat Hindu yang ingin sembahyang ke Pura Luhur Batukaru sangat disarankan untuk terlebih dahulu sembahyang di Pura Jero Taksu. Tujuan persembahyangan di Pura Jero Taksu adalah sebagai permakluman agar sembahyang di Pura Luhur Batukaru mendapatkan restu dan keberhasilan.

Pura Taksu ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan Pura Luhur Batukaru. Setelahnya barulah menuju pancuran yang letaknya di bagian tenggara dari pura utama namun tetap berada dalam areal Pura Luhur Batukaru. Air pancuran ini adalah untuk menyucikan diri dengan jalan berkumur, cuci muka dan cuci kaki di pancuran tersebut terus dilanjutkan sembahyang di Pelinggih Pura Pancuran tersebut sebagai tanda penyucian sekala dan niskala atau lahir batin sebagai syarat utama agar pemujaan dapat dilakukan dengan kesucian jasmani dan rohani.

Sesuai sejarah Pura Batukaru menunjukkan bahwa Pura Batukaru sudah ada sejak abad ke XI Masehi dan termasuk Pura Sad Kahyangan di Bali (Enam Pura Besar). Pura Luhur Batukaru merupakan tempat untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Mahadewa yang memelihara kesuburan tanah dan sumber-sumber air (kelestarian lingkungan).

Masyarakat setempat juga memberikan nama Ratu Hyang Tumuwuh kepada Dewa yang dipuja di Pura ini yang memiliki arti Sang Penumbuh. Kesuburan tanah dengan airnya yang bersih akan mampu menumbuhkan apa saja untuk kehidupan umat manusia.

 

9. Pura Tanah Lot

objek-wisata-religi-di-bali-pura-tanah-lot

Pura Luhur Tanah Lot berada di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, kurang lebih 25 kilometer dari Kota Denpasar. Pura ini berdiri di atas sebuah batu karang besar yang menghadap ke Samudra Hindia.

Tempat suci religius umat Hindu ini memiliki keindahan yang natural dengan pemandangan matahari terbenam yang sangat memukau. Di Tanah Lot inilah para wisatawan dapat menikmati keindahan sunset salah satu terbaik di Bali.

Pura Tanah Lot Bali terletak di tepi pantai Tanah Lot dan berdiri di atas sebuah batu karang laut yang kokoh dan kuat, disebelah baratnya juga terdapat pura yang disebut Pura Batu Bolong yang juga memiliki pemandangan yang tidak kalah indahnya.

Menurut sejarah Pura Tanah Lot menunjukkan bawah Pura ini dibangun pada abad XVI Masehi saat kepemimpinan Raja Bali Dalem Waturenggong. Ceritanya berkaitan erat dengan perjalanan suci seorang pendeta suci bernama Dang Hyang Nirartha dari Blambangan (Pulau Jawa) ke Pulau Bali yang ingin menyebarkan agama Hindu.

Dalam perjalanannya Beliau sempat beristirahat di pantai nan indah yang termasuk daerah Beraban. Di pantai ini terdapat batu karang dan juga mata air yang diberi nama Gili Beo yang artinya pulau kecil yang menyerupai burung. Karena ketidaksukaan pemimpin Desa Beraban masa itu, Bendesa Beraban Sakti, pada ajaran Dang Hyang Nirartha maka Dang Hyang Nirartha pun diusir.

Namun berkat kesaktian beliau Dang Hyang Nirartha memindahkan Gili Beo ke tengah laut dan menciptakan ular dari selendang untuk melindungi dirinya dan juga Gili Beo. Setelah kejadian itu Gili Beo pun berubah nama menjadi Tanah Lot atau Tanah yang ada di laut. Sementara Bendesa Beraban Sakti pada akhirnya menjadi pengikut setia Dang Hyang Nirartha untuk mengamalkan ajaran Hindu.

Saat ini Pura Tanah Lot berfungsi sebagai tempat pemujaan Tuhan sebagai Dewa Laut atau Dewa Baruna penguasa keseimbangan ekosistem laut.

 

Jika ingin ditelusuri lebih lanjut masih ada banyak objek wisata religius di Bali yang bisa dikunjungi karena Bali sendiri sudah terkenal dengan julukan Pulau Seribu Pura yang artinya ada ribuan tempat ibadah umat Hindu lainnya tersebar di berbagai penjuru Pulau Dewata. Namun 9 Pura di atas sudah populer di kalangan turis dan bisa menjadi referensi wisatawan yang bisa dikatakan sudah mewakili ribuan Pura yang ada di Bali.

Share this :

Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on Twitter

Komentar

komentar